Kisah Sukses Klien Bapas Yogyakarta, Support Keluarga dan Masyarakat Pegang Peranan Penting Keberhasilan Sistem Pemasyarakatan

 

Bapas2.jpeg

Yogyakarta_Lepas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menjadi masalah tersendiri, dilema antara minder dan takut untuk kembali ke masyarakat dan gembira karena lepas dari kungkungan jeruji besi. Belum siapnya karena telah kehilangan pekerjaan dan bagaimana menjalani hidup dan menafkahi keluarga setelah bebas, hal ini mengingat setelah keluar dari Lapas, justru banyak melakukan pengulangan tindak pidana, bahkan naik kelas melakukan tindakan kriminal. Namun hal ini tak berlaku bagi WBP Narkoba, Heru Jarot Hartanto (43).

Soal narkoba, kata Heru, tidak mengenal orang kaya maupun orang miskin, semua bisa terkena. Dari awalnya diberikan secara gratis hingga membuat ketagihan.

"Menerima pembebasan bersyarat (PB) adalah hadiah terbesar untuk saya, kembali ke masyarakat dan keluarga," Tutur Heru Jarot saat ditemui di dapur produksi usahanya di daerah Suryowijayan, Yogyakarta, Jumat (15/05/2020).

“Didalam Lapas saya aktif di Majelis Istiqomah Hijrah, dimana disitu dibina akhlak untuk betul-betul siap kembali ke masyarakat. Setelah menjalani bebas bersyarat bisa berkumpul dengan keluarga dan mendapat bimbingan dari Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta. Pembimbing Kemasyarakatan( PK) Bapas Kelas I Yogyakarta memberi saya pendampingan, berupa bimbingan kepribadian dan kemandirian, mendapat support moril dan materiil, disitu saya berusaha mengali potensi yang saya miliki di bidang usaha kuliner.” tambahnya.

 

Bapas3.jpeg

Kembali ke masyarakat memang tidak mudah, apalagi stigma tentang narapidana, meski demikian, baik istri, keluarga besarnya hingga para tetangganya memberikan dukungan dan tidak membencinya. Bahkan mereka justru memberi semangat padanya agar berubah menjadi orang yang lebih baik.

“Setelah bebaspun saya masih melanjutkan bergabung dengan Majelis Istiqomah Hijrah bersama teman-teman yang dulu pernah mersakan hal yang sama di dalam Lapas. Kami bersama belajar baca Alquran dan mendapatkan pencerahan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keyakinan saya untuk berubah, pokoknya berubah yang baik," jelasnya.

“Atas dukungan keluarga terutama istri, juga bimbingan PK Bapas Kelas I Yogyakarta saya berusaha masuk dalam usaha kuliner. Kebetulan pernah lama tinggal di Bali dan mencoba mengaplikasikan masakan Bali yaitu ayam betutu. Mencoba dan mencoba lagi sampai akhirnya ketemu rasa yang pas. Kemudia mulailah saya mencoba berjualan ayam betutu, awalnya tetangga, dari mulut kemulut, kemudian merambah ke media sosial. Alhamdulillah cara jitu media sosial lebih memudahkan. Selama dua tahun saya dibimbing di Bapas Yogyakarta, mental spiritual dan material banyak diberikan kepada saya dan keluarga, semakin percaya diri dalam menjalankan usaha,” kenang Heru.

 

bapas1.jpeg

Kini sudah dua tahun Heru menjalankan bisnis kulinernya, dan sudah bertambah lagi menu baru yaitu sambal kemasan.

“Setelah dua tahun mengalami jatuh bangun dalam usaha, Alhamdulillah sekarang telah stabil, dan menambah menu baru berupa sambal kemasan. Alhamdulillah sudah di-order oleh rekan yang diluar negeri,” Katanya.

Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta, Sri Rahayu atau biasa dipanggil yayuk menyampaikan bahwa Heru Jarot selama menjalani bimbingan PB sangat tertib, dalam bimbingan kepribadian dan kemandirian, rajin melaksanakan apel secara berkala.

“Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta setiap tahun bekerjasama dengan pihak Dinas Sosial Kota maupun provinsi untuk membantu klien Bapas mendapat pelatihan bahkan modal usaha. Menggali potensi yang dimiliki oleh klien untuk pengembangan diri agar betul-betul siap kembali ke masyarakat, dan bermanfaat bagi keluarga serta lingkungan,” ujar Yayuk.

Usaha yang dirintis Heru Jarot adalah usaha rumahan, walaupun masih beskala kecil tapi menurut jarot itu sudah mampu memberikan kepastian penghasilan untuk keluarganya. Pesan Jarot untuk rekan-rekan sesama WBP, “Harus tetap semangat. Lembaran baru pasti akan lebih baik. Berusaha dan berusaha , yang kemarin itu hanya cambukan yang memicu kita untuk kembali menjadi insan yang lebih baik untuk kita sendiri, keluarga dan masyarakat,”Pesannya.

Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta, Muhammad Ali Syeh Banna mengungkapkan bahwa peran PK dalam pembimbingan, pengawasan dan pendampingan untuk klien pemasyarakatan sangat besar

“Dukungan moril, spiritual, untuk mengarahkan klien menjadi pokok dalam perkembangan klien, dalam kondisi pandemi corona seperti ini tugas pokok Bapas tetap harus dijalankan walaupun secara daring, PK melakukan video call atau telepon kepada pihak keluarga, dan Ketua Rukun Tetangga(RT) ataupun Rukun Warga. Harapan kami stigma eks narapidana yang negatif mampu ditepis dengan keberhasilan nyata yang dihasilkan mereka,” katanya.

Bapas4.jpeg

“Awal April tahun 2020 ini dengan adanya program asimilasi, Pembebasan WBP untuk penanggulangan penyebaran virus corona cukup membuat khawatir masyarakat luas. Data yang ada di wilayah kerja Bapas Kelas I Yogyakarta yaitu Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta kami mengawasi 150 an WBP Asimilasi. Terjadi pengulangan tindak pidana di hanya 3 WBP dan telah diamankan oleh pihak kepolisian. Pastinya sesuai peraturan perundangan yang berlaku, bagi WBP yang melakukan pengulangan, tindak pidana akan mendapatkan bonus berupa straff cell setelah proses di kepolisian. Menghabiskan masa tahanan dan ditambah oleh hukuman pidana yang baru,” Jelas AliSyeh

“Selain itu mereka kehilangan hak-haknya seperti pengurangan masa tahanan, remisi dan lain-lain, termasuk tidak bisa dikunjungi olehkeluarga. Salah satu contoh seperti saudara Heru Jarot ini mampu menepis anggapan negatif tentang eks narapidana.” pungkas Alisyeh.

Kontributor : Bapas Yogyakarta

(Humas Kanwil Kemenkumham DIY – Jogja Pasti Istimewa)


Cetak